Hidup itu, hanyalah seperti goyah yang
selalu absurd[1].
Tidak pernah jelas kemana arahnya. Kadang, kita bisa berada di bawah, di sudut
paling dalam dari ke terpurukan dan kemustahilan. Kadang pula, kita bisa berada
di atas, di temani oleh kebahagiaan yang sangat nyata. Tinggal bagaimana cara
kita menyikapinya. Ingatlah, sesuatu yang absurd masih bisa di ubah menjadi
absolut. Dan saya percaya itu. Saya tidak akan pernah menyerah pada keadaan,
saya akan hadapi keadaan itu dengan kemampuan dan ketangguhan yang saya miliki.
Tidak peduli bagaimana akhirnya. Semuanya, saya akan hadapi dengan tegar.
Pernah enggak, anda mengalami hal seperti yang saya alami sekarang? Saya
di lahirkan, tapi tidak pernah di lahirkan. Saya ada, tapi tidak pernah ada.
Bahkan, saya tidak pernah tahu jati diri saya sendiri. Ibu yang mengandung saya
sejak saya belum dapat menghirup udara. Tega membuang saya tanpa saya tahu
alasan yang jelas darinya.
Saya
ini hanyalah pria abu-abu yang bertahan hidup dengan ketangguhan lemah yang
saya miliki. Saya orang yang kotor, yang tidak pernah memiliki alasan untuk apa
bertahan. Tapi, saya masih bertahan. Entahlah, kenapa saya bisa sebodoh ini. Jika
orang lain menjadi saya, mungkin mereka akan lebih memilih mati daripada hidup
dalam kesendirian dan ketiadaan.
Sekarang,
saya sedang sengit bertarung melawan derasnya badai yang menerjang. Berlari
dari kejaran orang-orang yang mencoba membunuh saya. ini terjadi, memang karena
kesalahan saya sendiri. Beberapa menit yang lalu, saya baru saja di pergoki
ketika sedang merampok salah satu rumah orang kaya yang berada di kawasan
perumahan di daerah Pondok indah Jakarta Selatan. Security yang menjaga rumah itu, memergoki saya saat sedang
memanjat tembok.
“MALING,
MALING MALING, BUNUH, BUNUH, BUNUH.”
Masa
yang mengejar meneriaki saya sedemikian rupa seolah saya adalah penjahat
tingkat dewa yang pantas mati. “Hey, tidak kah kalian lihat penjahat lain?
Mereka yang mewakili rakyat tapi tega memakan uang rakyat, mereka yang berbicara
seperti malaikat tapi bertingkah seperti setan yang haus akan uang.” Entah adil
atau tidak! Yang saya tahu, saya hanya harus berlari.
Berlari
dengan kencang layaknya angin menghempas dedaunan. Saya terus menghindari
mereka walau nafas mulai tersengal. Mata melirik memandangi gang-gang kecil sambil mencari tempat
persembunyian. Jika saya tertangkap, saya akan mati. Itulah satu-satunya
ketakutan yang membuat saya lebih kuat. Lebih kuat berlari dan lebih kuat untuk
menghindari. Saya masih ingin hidup, itu tekat.
Entah
sudah berapa jauh saya berlari sampai akhirnya saya bisa lepas dari mereka.
nafas saya yang sudah terengah memaksa saya untuk tiduran di pinggir jalan.
Akhirnya, saya bisa selamat. Tidak tahu harus berkata apa lagi ketika akhirnya
saya bisa lepas dari kejaran para masa yang memburu saya layaknya saya adalah
binatang. Yang jelas, saya bersyukur kepada tuhan yang entah ada di mana dia.
Tapi saya yakin, berkatnya lah saya bisa selamat.
Saya
berjalan lambat menyusuri ruas-ruas ibu kota yang megah. Saya sudah tidak
memiliki rumah sekarang. Dua hari yang lalu, saya di usir dari rumah kontrakan
yang saya singgahi karena tidak sanggup membayar. Tidak tahu apa yang saya
harus lakukan, saya hanya bisa berjalan, berjalan sejauh mungkin mengikuti langkah
kaki yang menapak. Tadinya saya ingin menyewa rumah lagi dengan uang hasil saya
merampok. Tapi saya gagal!
Tiba
pada satu titik, saat mata ini melihat wanita sedang di jajah. Ia di rajam, di
cerca oleh preman busuk yang mencoba menyetubuhinya. Air matanya mengalir deras
bak air terjun yang menghantam sungai. Bibirnya terus meronta dan berteriak,
mengharap iba agar ia tidak di perkosa.
“TOLONG,
TOLONG, TOLONG.” Terdengar jelas suara teriakannya.
Sekarang,
sudah jam dua belas malam dan sudah tidak ada orang. Seluruh jalan terlihat
sepi, hanya ada saya yang melihatnya. Tidak tingal diam, saya segera mengambil
balok yang tergeletak di trotoar dan memukuli preman-preman itu. Entah kekuatan
apa yang merasuki jiwa saya sampai saya berhasil mengalahkan tiga orang
berbadan besar hanya dalam waktu singkat.
Wanita
tadi, terselamatkan jiwanya karena ada saya. Tapi sayang, ia lantas tak
sadarkan diri setelah saya selamatkan. Matanya tertutup, dan tubuhnya lemah
terjatuh. Ia lebih tak berdaya di bandingkan saya sekarang. Segera saya
membopong tubuhnya yang mungil entah kemana arahnya. Mengikuti langkah kaki saya
yang masih tidak punya tujuan.
Ia
begitu lemah tak berdaya saat berada dalam gendongan saya. Saat saya melihat
teras yang ada di depan Ruko. Saya segera merebahkan tubuhnya di sana,
membiarkan malaikat menjaganya saat sedang tertidur. Saya basuh wajahnya yang
kotor dengan sapu tangan yang ada di kantung celana saya. Dan setelah saya
melakukan itu, saya segera membangunkan ia yang sedari tadi pingsan.
“Mbak,
bangun mbak. Mbak, bangun mbak.”
Cukup
lama juga saya berusaha untuk membangunkan ia yang terkulai. Dan pada akhirnya,
ia pun tersadar. Tapi, betapa kagetnya saya ketika ia meronta saat melihat
wajah saya. Ia ketakutan terhadap saya. Ia menganggap bahwa saya adalah bagian
dari preman-preman yang mencoba merenggut kesuciannya tadi.
Tidak
henti wanita itu terus memukuli saya sambil mencaci-maki sedemikian rupa. Saya
sudutkan tubuhnya hingga ia tersandar di tembok. Saya pegang tangannya
kuat-kuat agar ia mendengarkan saya.
“Tenang
mbak, tenang. Bukan saya yang ingin memperkosa mbak.”
“CUIKH,
kamu bohong. Kamu sudah merenggut kesucian saya.” Ungkapnya sambil meludahi
wajah saya.
Saya
merasa tidak terima karena di ludahi seorang wanita. Ingin rasanya saya
menampar wajah wanita ini. Tapi, entah kenapa saya tidak berani melakukannya.
Biasanya saya keras, tapi di hadapan wanita ini saya menjadi lembek. Lebih
lembek dari ubur-ubur.
“Kamu
itu tidak tahu terimakasih yah! Kamu itu masih suci tau gak. Saya yang selamatkan kamu dari para brandal yang mencoba
merenggut kesucian kamu.”
“Saya
tidak percaya, laki-laki dengan pakaian brandal seperti kamu. GAK ADA YANG
BAIK! Pasti kamu sudah menyetubuhi saya saat saya pingsan tadi. iya kan?”
“Terserah
mau percaya atau gak.” Sahut saya
kesal.
Saya
melepaskan wanita itu dan pergi meninggalkannya tanpa banyak penjelasan. Tidak
peduli bagaimana nasibnya lagi. Percuma saya menolongnya jika dia tidak
percaya. Saya kembali berjalan tanpa arah dan tujuan. Mengikuti langkah kaki
yang membawa saya entah kemanapun itu.
Jakarta
memang tidak pernah tertidur. Setelah jalan-jalan sepi yang saya jumpai saat
berada di perkampungan. Sekarang, saya malah menemukan kehidupan yang ramai
oleh banyaknya orang yang nongkrong di pinggir jalan. Para wanita dengan
pakaian seksi terlihat sedang menggoda pria-pria hidung belang. “Tempai macam
apa ini?” Tanya saya dalam hati.
Karena
lelah, saya langsung mendudukan tubuh saya di trotoar yang terletak di pinggir
jalan. Saya merundukan kepala, dan menangis di saat orang lain tertawa
menggoda. Beberapa wanita yang melihat saya, berdatangan kearah saya. Mereka
mencoba merayu dan mengajak saya tidur dalam gubug menemani mereka.
“Hey
ganteng. Ayolah kita bersenang-senang di malam yang panjang ini.” Ajak salah
satu wanita.
“Apa
sih?” Jawab saya menolak.
Mereka
tidak berbicara banyak setelah saya menolak tawaran mereka. Saya memang orang
yang kacau. Tapi keperjakaan yang saya miliki, hanya untuk wanita yang akan
mendampingi saya seumur hidup. Bukan untuk mereka yang menggoda. Entah apakah
nanti akan ada orang yang menerima saya apa adanya. Atau mungkin, selamanya
saya tidak akan pernah menikah.
Dalam
keterpurukan dan kegundahan hati karena tidak memiliki tempat tinggal. Saya
sama sekali tidak menemukan titik terang saat berada di sini. Tapi, saya masih
saja menundukan kepala. Dan pada saat hati saya meratap, ada orang yang
mendongakkan kepala saya hingga tegak dan tidak lagi merunduk.
“Hey?”
Wanita yang tadi saya selamatkan,
ternyata datang menghampiri.
“Untuk
apa kamu ke sini?” Sahut saya.
“Untuk
kamu.”
“Tapi
buat apa?”
“Ya
buat kamu.”
“Enggak
ada gunanya yah ngomong sama orang
kayak kamu.”
Karena
merasa tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Saya meninggalkan wanita itu di
tempat pelacuran yang masih sangat ramai di huni oleh para penikmat dan pemuas
nafsu. Dan tidak saya sangka. Ternyata para pelacur yang melihat wanita yang
tadi menghampiri saya, menganggap ia sebagai orang baru yang berniat untuk
mengambil lahan meraka.
Untuk
kedua kalinya wanita itu di cerca dan di jajah. Kali ini, bukan lagi oleh
preman yang mencoba merebut kesuciannya. Tapi, oleh pelacur yang menganggap ia
sebagai wanita murahan yang baru mangkal.
Lagi-lagi,
saya tidak tinggal diam. Segera saya menarik tangannya dan mengajak ia berlari
kencang menghindari cercaan para pelacur tersebut. dan setelah berhasil lolos,
kami berdua berhenti dengan nafas tersengal-sengal.
“Makasih
yah.” Ungkap sang wanita.
“Memangnya,
kamu udah yakin kalo kamu masih perawan?” Jawab saya.
“Udah
aku periksa kok tadi, dan ternyata gak berdarah.
Makanya aku menghampiri kamu untuk minta maaf atas ludah yang aku buang ke
wajah kamu.”
“Udah
saya maafin kok.”
“Kamu
mau kemana?”
“Entah.”
“Nama
kamu siapa?”
“Nama
saya Satin, kalo kamu?”
“Nama
saya Denise.”
Akhirnya
kami berdua resmi berkenalan. Saya masih belum mengenal siapa Denise dan dari
mana asalnya. Tapi, saya percaya bahwa ia adalah wanita baik-baik. Dari segi
wajah dan penampilan, ia terlihat begitu menawan dengan kesederhanaan cara
berpakaiannya yang hanya menggunakan celana jeans dan kaos yang ia kenakan.
Lebih terlihat natural dibandingkan wanita yang suka berdandan.
Bersama
Denise, saya menyusuri jalan-jalan kota tanpa tujuan. Membiarkan kaki-kaki kami
menemukan arah yang masih membentang. Ia tidak pernah bertanya kemana saya akan
membawanya pergi. Ia hanya mengikuti jejak langkah saya dengan kekuatan kakinya
yang seperti pendaki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar