Minggu, 19 Mei 2013

TANPA TUJUAN


Hidup itu, hanyalah seperti goyah yang selalu absurd[1]. Tidak pernah jelas kemana arahnya. Kadang, kita bisa berada di bawah, di sudut paling dalam dari ke terpurukan dan kemustahilan. Kadang pula, kita bisa berada di atas, di temani oleh kebahagiaan yang sangat nyata. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Ingatlah, sesuatu yang absurd masih bisa di ubah menjadi absolut. Dan saya percaya itu. Saya tidak akan pernah menyerah pada keadaan, saya akan hadapi keadaan itu dengan kemampuan dan ketangguhan yang saya miliki. Tidak peduli bagaimana akhirnya. Semuanya, saya akan hadapi dengan tegar.
            Pernah enggak, anda mengalami hal seperti yang saya alami sekarang? Saya di lahirkan, tapi tidak pernah di lahirkan. Saya ada, tapi tidak pernah ada. Bahkan, saya tidak pernah tahu jati diri saya sendiri. Ibu yang mengandung saya sejak saya belum dapat menghirup udara. Tega membuang saya tanpa saya tahu alasan yang jelas darinya.

            Saya ini hanyalah pria abu-abu yang bertahan hidup dengan ketangguhan lemah yang saya miliki. Saya orang yang kotor, yang tidak pernah memiliki alasan untuk apa bertahan. Tapi, saya masih bertahan. Entahlah, kenapa saya bisa sebodoh ini. Jika orang lain menjadi saya, mungkin mereka akan lebih memilih mati daripada hidup dalam kesendirian dan ketiadaan.
            Sekarang, saya sedang sengit bertarung melawan derasnya badai yang menerjang. Berlari dari kejaran orang-orang yang mencoba membunuh saya. ini terjadi, memang karena kesalahan saya sendiri. Beberapa menit yang lalu, saya baru saja di pergoki ketika sedang merampok salah satu rumah orang kaya yang berada di kawasan perumahan di daerah Pondok indah Jakarta Selatan. Security yang menjaga rumah itu, memergoki saya saat sedang memanjat tembok.
            “MALING, MALING MALING, BUNUH, BUNUH, BUNUH.”
            Masa yang mengejar meneriaki saya sedemikian rupa seolah saya adalah penjahat tingkat dewa yang pantas mati. “Hey, tidak kah kalian lihat penjahat lain? Mereka yang mewakili rakyat tapi tega memakan uang rakyat, mereka yang berbicara seperti malaikat tapi bertingkah seperti setan yang haus akan uang.” Entah adil atau tidak! Yang saya tahu, saya hanya harus berlari.
            Berlari dengan kencang layaknya angin menghempas dedaunan. Saya terus menghindari mereka walau nafas mulai tersengal. Mata melirik memandangi gang-gang kecil sambil mencari tempat persembunyian. Jika saya tertangkap, saya akan mati. Itulah satu-satunya ketakutan yang membuat saya lebih kuat. Lebih kuat berlari dan lebih kuat untuk menghindari. Saya masih ingin hidup, itu tekat.
            Entah sudah berapa jauh saya berlari sampai akhirnya saya bisa lepas dari mereka. nafas saya yang sudah terengah memaksa saya untuk tiduran di pinggir jalan. Akhirnya, saya bisa selamat. Tidak tahu harus berkata apa lagi ketika akhirnya saya bisa lepas dari kejaran para masa yang memburu saya layaknya saya adalah binatang. Yang jelas, saya bersyukur kepada tuhan yang entah ada di mana dia. Tapi saya yakin, berkatnya lah saya bisa selamat.
            Saya berjalan lambat menyusuri ruas-ruas ibu kota yang megah. Saya sudah tidak memiliki rumah sekarang. Dua hari yang lalu, saya di usir dari rumah kontrakan yang saya singgahi karena tidak sanggup membayar. Tidak tahu apa yang saya harus lakukan, saya hanya bisa berjalan, berjalan sejauh mungkin mengikuti langkah kaki yang menapak. Tadinya saya ingin menyewa rumah lagi dengan uang hasil saya merampok. Tapi saya gagal!
            Tiba pada satu titik, saat mata ini melihat wanita sedang di jajah. Ia di rajam, di cerca oleh preman busuk yang mencoba menyetubuhinya. Air matanya mengalir deras bak air terjun yang menghantam sungai. Bibirnya terus meronta dan berteriak, mengharap iba agar ia tidak di perkosa.
            “TOLONG, TOLONG, TOLONG.” Terdengar jelas suara teriakannya.
            Sekarang, sudah jam dua belas malam dan sudah tidak ada orang. Seluruh jalan terlihat sepi, hanya ada saya yang melihatnya. Tidak tingal diam, saya segera mengambil balok yang tergeletak di trotoar dan memukuli preman-preman itu. Entah kekuatan apa yang merasuki jiwa saya sampai saya berhasil mengalahkan tiga orang berbadan besar hanya dalam waktu singkat.
            Wanita tadi, terselamatkan jiwanya karena ada saya. Tapi sayang, ia lantas tak sadarkan diri setelah saya selamatkan. Matanya tertutup, dan tubuhnya lemah terjatuh. Ia lebih tak berdaya di bandingkan saya sekarang. Segera saya membopong tubuhnya yang mungil entah kemana arahnya. Mengikuti langkah kaki saya yang masih tidak punya tujuan.
            Ia begitu lemah tak berdaya saat berada dalam gendongan saya. Saat saya melihat teras yang ada di depan Ruko. Saya segera merebahkan tubuhnya di sana, membiarkan malaikat menjaganya saat sedang tertidur. Saya basuh wajahnya yang kotor dengan sapu tangan yang ada di kantung celana saya. Dan setelah saya melakukan itu, saya segera membangunkan ia yang sedari tadi pingsan.
            “Mbak, bangun mbak. Mbak, bangun mbak.”
            Cukup lama juga saya berusaha untuk membangunkan ia yang terkulai. Dan pada akhirnya, ia pun tersadar. Tapi, betapa kagetnya saya ketika ia meronta saat melihat wajah saya. Ia ketakutan terhadap saya. Ia menganggap bahwa saya adalah bagian dari preman-preman yang mencoba merenggut kesuciannya tadi.
            Tidak henti wanita itu terus memukuli saya sambil mencaci-maki sedemikian rupa. Saya sudutkan tubuhnya hingga ia tersandar di tembok. Saya pegang tangannya kuat-kuat agar ia mendengarkan saya.
            “Tenang mbak, tenang. Bukan saya yang ingin memperkosa mbak.”
            “CUIKH, kamu bohong. Kamu sudah merenggut kesucian saya.” Ungkapnya sambil meludahi wajah saya.
            Saya merasa tidak terima karena di ludahi seorang wanita. Ingin rasanya saya menampar wajah wanita ini. Tapi, entah kenapa saya tidak berani melakukannya. Biasanya saya keras, tapi di hadapan wanita ini saya menjadi lembek. Lebih lembek dari ubur-ubur.
            “Kamu itu tidak tahu terimakasih yah! Kamu itu masih suci tau gak. Saya yang selamatkan kamu dari para brandal yang mencoba merenggut kesucian kamu.”
            “Saya tidak percaya, laki-laki dengan pakaian brandal seperti kamu. GAK ADA YANG BAIK! Pasti kamu sudah menyetubuhi saya saat saya pingsan tadi. iya kan?”
            “Terserah mau percaya atau gak.” Sahut saya kesal.
            Saya melepaskan wanita itu dan pergi meninggalkannya tanpa banyak penjelasan. Tidak peduli bagaimana nasibnya lagi. Percuma saya menolongnya jika dia tidak percaya. Saya kembali berjalan tanpa arah dan tujuan. Mengikuti langkah kaki yang membawa saya entah kemanapun itu.
            Jakarta memang tidak pernah tertidur. Setelah jalan-jalan sepi yang saya jumpai saat berada di perkampungan. Sekarang, saya malah menemukan kehidupan yang ramai oleh banyaknya orang yang nongkrong di pinggir jalan. Para wanita dengan pakaian seksi terlihat sedang menggoda pria-pria hidung belang. “Tempai macam apa ini?” Tanya saya dalam hati.
            Karena lelah, saya langsung mendudukan tubuh saya di trotoar yang terletak di pinggir jalan. Saya merundukan kepala, dan menangis di saat orang lain tertawa menggoda. Beberapa wanita yang melihat saya, berdatangan kearah saya. Mereka mencoba merayu dan mengajak saya tidur dalam gubug menemani mereka.
            “Hey ganteng. Ayolah kita bersenang-senang di malam yang panjang ini.” Ajak salah satu wanita.
            “Apa sih?” Jawab saya menolak.
            Mereka tidak berbicara banyak setelah saya menolak tawaran mereka. Saya memang orang yang kacau. Tapi keperjakaan yang saya miliki, hanya untuk wanita yang akan mendampingi saya seumur hidup. Bukan untuk mereka yang menggoda. Entah apakah nanti akan ada orang yang menerima saya apa adanya. Atau mungkin, selamanya saya tidak akan pernah menikah.
            Dalam keterpurukan dan kegundahan hati karena tidak memiliki tempat tinggal. Saya sama sekali tidak menemukan titik terang saat berada di sini. Tapi, saya masih saja menundukan kepala. Dan pada saat hati saya meratap, ada orang yang mendongakkan kepala saya hingga tegak dan tidak lagi merunduk.
            “Hey?” Wanita yang tadi  saya selamatkan, ternyata datang menghampiri.
            “Untuk apa kamu ke sini?” Sahut saya.
            “Untuk kamu.”
            “Tapi buat apa?”
            “Ya buat kamu.”
            “Enggak ada gunanya yah ngomong sama orang kayak kamu.”
            Karena merasa tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Saya meninggalkan wanita itu di tempat pelacuran yang masih sangat ramai di huni oleh para penikmat dan pemuas nafsu. Dan tidak saya sangka. Ternyata para pelacur yang melihat wanita yang tadi menghampiri saya, menganggap ia sebagai orang baru yang berniat untuk mengambil lahan meraka.  
            Untuk kedua kalinya wanita itu di cerca dan di jajah. Kali ini, bukan lagi oleh preman yang mencoba merebut kesuciannya. Tapi, oleh pelacur yang menganggap ia sebagai wanita murahan yang baru mangkal.
            Lagi-lagi, saya tidak tinggal diam. Segera saya menarik tangannya dan mengajak ia berlari kencang menghindari cercaan para pelacur tersebut. dan setelah berhasil lolos, kami berdua berhenti dengan nafas tersengal-sengal.
            “Makasih yah.” Ungkap sang wanita.
            “Memangnya, kamu udah yakin kalo kamu masih perawan?” Jawab saya.
            “Udah aku periksa kok tadi, dan ternyata gak berdarah. Makanya aku menghampiri kamu untuk minta maaf atas ludah yang aku buang ke wajah kamu.”
            “Udah saya maafin kok.”
            “Kamu mau kemana?”
            “Entah.”
            “Nama kamu siapa?”
            “Nama saya Satin, kalo kamu?”
            “Nama saya Denise.”
            Akhirnya kami berdua resmi berkenalan. Saya masih belum mengenal siapa Denise dan dari mana asalnya. Tapi, saya percaya bahwa ia adalah wanita baik-baik. Dari segi wajah dan penampilan, ia terlihat begitu menawan dengan kesederhanaan cara berpakaiannya yang hanya menggunakan celana jeans dan kaos yang ia kenakan. Lebih terlihat natural dibandingkan wanita yang suka berdandan.
            Bersama Denise, saya menyusuri jalan-jalan kota tanpa tujuan. Membiarkan kaki-kaki kami menemukan arah yang masih membentang. Ia tidak pernah bertanya kemana saya akan membawanya pergi. Ia hanya mengikuti jejak langkah saya dengan kekuatan kakinya yang seperti pendaki.




[1] Mustahil, SuliTAS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar