Matahari telah
menutup sinarnya pada saat waktu menunjuk pada pukul setengah tujuh malam. Kini
cahayanya telah di gantikan oleh sang bulan yang senantiasa ada untuk
menggantikan tugas sang matahari menjaga bumi dari kegelapan. Di sana, di bawah
remang-remang lampu kamar yang redup terang, hiduplah sebuah spesies setengah
manusia, setengah orang gila. Sekarang makhluk itu sedang melamun panjang di
dalam kamar gelapnya yang terlihat berantakan. Yah… emang sih manusia ini sebenarnya manusia normal. Tapi,
kegalauan membuat dia agak sedikit miring otaknya.
Pernah gak kalian ngebayangin kalian
bisa ngomong sama semua benda yang ada di sekitar kalian? Pernah gak kalian liat ada orang ngelakuin hal aneh kayak gitu? Kalo udah pernah, mungkin yang
kalian liat itu orang gila!
Tapi, Kiditz gak
gila, Kiditz cuma lagi ge...aga…el…ala…u
( Galau ). Bicara tentang galau, sebenarnya arti galau menurut bahasa
adalah :
Suatu keadaan di mana seseorang berdiam diri karena
kesedihan dan perasaan yang berkecamuk menjadi satu… dari mulai pilu, sedih,
mual, mumet, dan ujung-ujungnya nangis kalo gak ada temen buat cerita…
Yang di atas itu
galau versi cewek, lain lagi halnya kalo galau versi cowok. Kalo cewek lagi
galau terus nangis, itu wajar. Tapi, kalo cowok lagi galau terus nangis, itu
banci. Karena seorang pria sejati cenderung lebih menggunakan akal sehat dan
pikiran selagi ia mengalami cobaan. Beda sama perempuan yang lebih cenderung
menggunakan emosi saat dalam keadaan galau. Dan tanpa pikir panjang, air mata
perempuan itu lebih mudah jatuh dibandingkan dengan air mata laki-laki.
Mamahnya Kiditz
pernah bilang, Laki-laki itu boleh berdarah tapi gak boleh menangis. Makanya
itu Kiditz gak mau nangis, karena kalo Kiditz nangis, nanti di marahin mamah ha…ha…ha...
“Eh Ditz, sejak kapan lu dengerin apa
kata mamah, kalo emang lu sedih gara-gara abis di putusin dan mau nangis, ya
nangis aja. Apa susahnya sih buat nangis doang?” Tiba-tiba, makhluk di dalam
tubuh Kiditz yang bernama hati menyuruh Kiditz untuk menangis.
“Enggak Ti, gue kuat kok, gue kuat Ti. Lu
percaya kan kalo gue kuat? ~Hiks… hiks…
hiks…” Akhirnya, air mata yang tak mempu lagi di tahan Kiditz menetes juga.
“Bacot aja lu
Ditz! ngaku kuat endingnya banjir juga.” Kemudian si hati meledek Kiditz.
“Sebenernya, gue masih sayang banget sama dia Ti, dan gue
gak mau kehilangan dia. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia ninggalin gue dan
bilang putus dengan sesederhana itu. Dia bilang gue gak jelas lah, gak berhak
ngatur-ngatur dia, ngelarang-ngelarang dia. Padahal kan, gue cuma ngelarang dia
buat makan gorengan yang di jual abang-abang yang kuku tangannya penjang bin item Ti. Lo gak liat tadi gorengannya
jijik banget, udah gosong, demek, mirip banget sama yang jual. Terus udah gitu,
dia makannya di depan gue lagi. Sumpah Ti gue gak kuat buat liat gorengan itu
masuk ke bibir eksotisnya yang pernah gue sentuh itu.”
“Mungkin
menurutnya, gorengan itu lebih nikmat dari pada punya lu kali Ditz. Lu liat deh
yang ada di dalem seleting lu itu. Kecil banget kan? Cewek juga males kali
liatnya. Apa lagi megang, terus di makan.
Hahaha… ” Ungkap sang hati ngelantur.
“Dasar hati tolol, apa hubungannya gorengan sama
punya gue pea.”
“Mpoeezzz lo Ditz Mpoezz!” Ledek sang hati, bermaksud ngomong mampus tapi lidahnya ke gigit.
“Gak Lucu.”
Kiditz jadi kesal.
“Abis lu nya pea Ditz, ngoceh sama gue.” Jawab sang
hati.
Karena merasa
hatinya tidak mau mendengar. Kiditz tidak lagi mendengarkan kata sang hati yang
tadi menyuruhnya menangis. Sekarang, ia lebih memilih tidur-tiduran daripada harus bete-betean
sama hatinya sendiri. Kiditz gak tau harus curhat sama siapa lagi,
teman-temannya baik yang laki-laki maupun perempuan, pasti udah pada tidur
karena waktu sudah memasuki pukul dua belas malam. Atau mungkin, Kiditz memang
gak punya teman lagi sekarang. Karena selama ada Siput, seluruh waktunya hanya
ia persembahkan untuk Siput. Dan teman seolah tidak ada artinya untuk Kiditz.
“Ditz, jangan
cuekin gue dong.” Si Hati ngomong lagi.
“Bodo amat.”
Jawab Kiditz.
Di bawah cahaya
redup terang, Kiditz masih mencoba terpejam. Namun, setiap kali ia mencoba
memejamkan mata, bayangan kekasihnya yang tadi sore berubah menjadi mantan
selalu menghantui dan membuat Kiditz tidak bisa terlelap. “Sial… gara-gara curhat sama si hati pea nih, jadi gak punya
temen curhat jam segini. Eh Iya, kan gue udah gak punya temen sekarang.
Temen-temen, maafin Kiditz yang udah lupa sama kalian saat adem-adem aja sama si Putri.” Ucap Kiditz membatin sendiri.
Semua yang ada
di rumah, mulai dari ayah, mamah, dan adik-adiknya Kiditz yang masih kecil
sudah tidur dari sejak pukul sepuluh malam. Kini hanya tinggal Kiditz dan
bayang-bayang kekasihnya lah yang masih terbangun. Karena tidak tahu harus
melakukan apa, akhirnya Kiditz mengambil handphonenya dan memutar musik yang
ada di dalamnya untuk menghempas kesunyian. Efek Rumah Kaca > Options >
Play > OK.
Insomnia coba aku, pecahkan segala misterimu,
kunanti dan ku cari seserpih mimpi. Kurindu untuk bercumbu, mesra alam bawah
sadarku, ku nanti dan ku cari, seserpih mimpi. Kau bunuh suhu di sangkarku,
cuaca di tamanku. Gerimis datang musnahlah gersang ku tetap terjaga, aku tetap
terjaga. Insomnia
Efek
Rumah Kaca – Insomnia
Setelah hampir
dua menit lagu tersebut terputar dari dalam handphonenya, kemudian tiba-tiba
nadanya berubah menjadi aneh, atau bahkan sangat aneh.
Jengkol-jengkol, Jengkol-jengkol, jengkolnya bu,
jengkolnya pak. Ayoook… siapa yang mau beli. Mumpung masih anget…
“Lu pikir
siomay, anget!” Ucap Kiditz, kesel sama handphone.
Nada dering yang berbunyi dari dalam
handphone Kiditz tersebut, mampu menggantikan alunan-alunan indah yang di
nyanyikan oleh sang maestro Efek Rumah Kaca menjadi tukang jengkol yang biasa
lewat di depan rumah Kiditz yang diam-diam suaranya Kiditz rekam dan di
jadikannya sebagai nada dering telepon. “Orang lagi enak denger lagu, malah
berubah jadi nadanya si kuprut.
Kiditz segera melihat handphonenya
tersebut dan melihat sebuah nomor 0838******** tercetak di layar handphone itu.
Tanpa banyak basa-basi, Kiditz langsung memencet tombol hijau pada bagian keypad untuk menjawab panggilan yang
datang. “Asikk… ada yang telepon
malem-malem, pasti dia ngajakin
balikan deh.” Pikir Kiditz kemudian mulai berbicara.
“Halo, Siput yah? Kamu pasti pengen ngajakin aku balikan deh. Aku tau kok, kamu gak mungkin putusin aku
cuma gara-gara gorengan. Pasti kamu mau bilang, kalo kamu masih sayang banget
sama aku kan? Udah ngaku aja Siput, aku juga masih sayang banget sama kamu kok.
Serius deh! Aku gak pernah main-main kalo masalah perasaan!” Ucap Kiditz
panjang lebar dan tidak membiarkan sang penelepon memotong apa yang sedang ia
katakan.
“Haahh??”
Sang penelepon jadi kebingungan.
“Loh, terus ini siapa dong?”
“Ini gue Ella temen SMA lu Ditz,
bukan Siput.” Sahut sang kodok, Ehh… sang
penelepon maksudnya.
“OH, elu La, apa kabar lo?”
“Baik Ditz, ciee… Siput siapa tuh?”
“Mantan gue La.”
“Ehem…
kayaknya lo masih sayang banget yah, sampe kayak gitu ngocehnya.”
“Ya gitu deh La, baru tadi sore dia
mutusin gue, udah gitu alesannya gak jelas lagi. Masa iya gue di putusin cuma
gara-gara tukang gorengan! Apa mungkin dia punya yang lain selain gue La?
Menurut lu gimana?”
“Ember, bisa jadi, tinta-tinta.” Si
Ella malah bercanda.
“La, gue serius nih!!”
“Coba lu tanya sama hati lu Ditz,
menurut hati lu dia masih sayang sama lu gak?”
“Gue lagi bete-betean sama hati gue La, hati gue lagi gak ngerti-in gue
sekarang. Lu mau kan ngerti-in gue La? Plis La ngerti-in gue La, ngerti-in
dikit aja La, gue cuma butuh pengertian dari lu La.”
“Haahhh…
ada yah orang kayak lu!” Ella bingung sekaligus takut karena ucapan Kiditz.
“Tuuuttt…
tuuutttt… tuutttt…” Tanda telepon kentut… ha…ha…ha…
“Arghhh… Shit, pake di mati-in lagi.”
Kiditz semakin galau, Kiditz
bingung, Kiditz bimbang, Kiditz ragu. Niat yang sebenarnya hanya ingin curhat
dengan Ella malah membuat Ella jadi salah paham “Ella bukan salah paham Ditz,
dia takut sama cara mohon lu yang lebay[1]
gitu.” Tiba-tiba sang hati mulai berbicara lagi.
“La, maafin gue yah kalo gue bikin
lu takut atau salah paham. Sebenernya, gue cuma mau curhat kok, gak lebih.”
Kemudian Kiditz mengirim SMS kepada Ella.
Sebenarnya, Ella tidak takut ataupun
salah paham karena ucapan Kiditz. Hanya saja, pacarnya Ella SMS kalau ia mau
menelepon Ella. Makanya Ella memutuskan teleponnya saat Kiditz ingin curhat.
Karena sudah tidak tahu lagi harus
melakukan apa, sementara bayangan Siput masih menghantui malam Kiditz di hari
ini. Membuat Kiditz mengambil sebuah sticker yang ada di dalam laci meja yang
terdapat di dalam kamarnya. Ia langsung memasang sticker tersebut di pintu
kamar agar tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar Kiditz saat pagi
menjelang.
Seluruh keluarga Kiditz juga tahu,
jika sticker dengan tulisan “WARNING!! YANG WARAS DI LARANG MASUK” sudah
terpasang di depan pintu kamar Kiditz. Itu artinya, ia sedang tidak mau di
ganggu oleh siapa pun. Dan mereka semua tidak ada yang berani masuk ke dalam
kamar Kiditz saat Kiditz sudah menempelkan sticker tersebut.
Akhirnya, Kiditz menggunakan cara
terakhir untuk melepas kegalauannya. Yaitu, dengan bermediasi ala orang gila. Cara ini mungkin
terlihat sedikit aneh dan tidak akan pernah di lakukan oleh orang yang
benar-benar waras. Tapi, menurut Kiditz, ini cara yang paling ampuh untuk
melepas ke galauan saat semua yang ada tidak mau mendengarkan kegelisahannya. “Oke,
kunci pintu kamar dan mediasi di mulai.”
Pertama-tama, Kiditz memulainya
dengan bantal. Tangannya mulai meremas bantal tersebut dan matanya menatap
tajam ke arah bantal itu. Lalu, ia mulai semuanya.
“Wehh
Bantal, waktu itu dia pernah tidurin lu kan yah? Kan yang waktu itu dia pernah
gue ajak nginep di sini, terus gue di suruh tidur di luar sama mamah, sampe-sampe gue masuk angin cuma demi
dia. Lu masih inget kan tal?” Ucap Kiditz kepada sang bantal.
“Enggak
Ditz, seinget gue waktu itu dia gak jadi nginep gara-gara dia gak boleh sama
nyokapnya deh. Terus lu anterin dia pulang dan dia gak jadi tidur-in gue Ditz.”
Sahut sang bantal seolah bisa bicara.
“Ahh,
bohong aje lo Tal. Perasaan gue, dia nginep deh! Kalo gitu, mending gue tanya
sama kasur aja ah.”
Lalu, Kiditz melepaskan sang bantal
dan beralih mengajak bicara sang kasur.
“Wehh
Kasur, yang waktu itu dia nginep kan Sur? Lo jangan bohongin gue kayak si Bantal
yah sur, nanti gue ompolin lu kalo
bohong!”
“Si Bantal bener Ditz, yang waktu
itu dia lu anterin pulang. Kan dia di telepon nyokapnya gak boleh nginep.
Nyokapnya takut kalo lu bakal macem-macemin dia Ditz.”
“Ahh…
itu mah nyokapnya aja yang bapuk.
Kan lo tau, kalo sejak jadian sampe dua tahun pacaran, dia gak pernah gue
sentuh Sur.”
“Bullshit
banget lu Ditz, yang waktu itu gue liat lu sentuh bibirnya pake bibir lu
yang dower itu di atas gue. Awas aja
lo gak ngaku!” Si kasur mendesak Kiditz untuk mengakui perbuatannya.
“Huuhh…
yang namanya ciuman mah wajar kali sur, namanya juga orang pacaran.”
“Bukan cuma ciuman doang gue liatnya
Ditz, lu juga pernah sentuh bagian sensitifnya ia kan?” Kasur semakin mendesak.
“Otak lu mesum sur, males gue curhat
sama lu.”
“He…
he…” Sahut Kasur.
Karena si kasur otaknya ngeres dan
gak mungkin dengerin curhatan Kiditz. Akhirnya, Kiditz memutuskan untuk mencari
barang-barang lain yang terdapat di dalam kamarnya.
“Eh, ada Selimut. Mut, waktu itu, lu
pernah gue pake buat menghangatkan tubuhnya Siput kan Mut? Waktu gue lagi ajak
Siput ke Puncak Bogor itu Mut. Inget gak?.”
“Emang gue pernah di ajak Ditz kalo
kalian pergi bedua? Jangankan ke Puncak, waktu kalian ke Pasar malam aja, gue gak
di ajak. Hiks…”
“Maaf deh Mut, gue kan lupa.”
“Lu gak pernah pengertian Ditz.”
Ucap Selimut.
“Ah…
Lebay lo Mut. Mending gue curhat sama Helm aja deh kalo gitu.”
“Wehh
Helm, gimana nih, dia udah mutusin gue. Lu bisa bantu gak? Cara biar gue bisa
balikan sama dia.”
“Lu cari yang lain aja Ditz, lu inget gak tadi sore dia udah banting gue
sampe retak. Gue gak ikhlas Ditz!! Kalian
berdua yang berantem, malah gue yang
di sakit-in. lu pikir enak Ditz!”
“Ah
elo, payah lah!”
Dengan sangat terpaksa, Kidiz yang
sebetulnya sedang bermusuhan dengan Sajadah karena ia sudah lama tidak
menggunakan Sajadah untuk beribadah, akhirnya mengajak Sajadah berdamai dan
meminta solusi kepada Sajadah tersebut.
“Sajadah, kita damai yuk. Gue janji
deh bakal pake lu buat shalat lagi. Tapi, lu kasih tau dulu cara biar gue bisa
balikan sama si Siput itu.”
“Harusnya Lu minta petunjuk sama
Allah Ditz, bukan sama gue atau barang-barang lu yang lain. Percayalah Ditz,
sang pemilik alam semesta itu akan memberikan yang terbaik untuk mu.”
“Gak nyangka gue Dah, lu dewasa banget yah ternyata. He… he…”
Karena sudah mengetahui jawaban dari
segala Tanya. Akhirnya Kiditz tau apa yang harus ia lakukan. Sekarang ia tidak
lagi menggalau karena cintanya yang baru saja kandas di tengah jalan. Kali ini,
ia menyerahkan semuanya kepada Allah semata, yang senantiasa selalu memberikan
yang terbaik untuk umatnya. Kiditz kini sudah mau shalat lagi, dan kehilangan
Siput membuat ia dekat dengan tuhan. “Terima kasih Siput.” Ucap Kiditz seusai
shalat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar